Senin, 24 April 2017

Tradisi, adat istiadat, budaya yang di lakukan di lingkungan sumbawa besar NTB yang berkaitan dengan Kesehatan Ibu Anak (kehamilan, persalinan, nifas, bayi, balita, anak-anak, dan lain-lain, dalam hal perawatan kesehatan sehari-hari


.Nama Tradisi

KIA
Tujuan
Biso Tian (cuci perut)
Tradisi Biso Tian dalam kebanyakan masyarakat Suku Samawa adalah tradisi yang mengajarkan manusia untuk hidup berdampingan dengan yang lainnya, bersosialisasi dan memiliki tenggang rasa dan juga saling berbagi dalam pergaulan sehari-hari. Diawali dengan memandikan calon ibu dengan air kembang, Biso Tian pun dimulai. Doa-doa untuk kemudahan dan kebaikan bagi calon ibu mengalir dari bibir Sandro Tamang sepanjang mandi kembang berlangsung. Guyuran lembut yang dipenuhi bunga-bunga tentu saja memberikan kenyamanan bagi calon ibu dan bayi yang dikandungnya. Setelah itu, sang calon ibu mempercantik penampilannya dengan memakai pakaian adat Sumbawa khusus untuk ibu hamil 7 bulan, menuju prosesi inti Biso Tian.
Biso Tian bertujuan sebagai ungkapan kebahagiaan menanti bayi pertama dari seorang ibu. Selain itu, meramaikan acara tujuh bulanan khas Sumbawa ini juga untuk memberikan kekuatan dan semangat kepada si calon ibu yang baru pertama kali akan mengalami proses luar biasa dalam hidupnya, yaitu melahirkan





















Gunting bulu
Rambut yang digunting dengan buah bulu tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kelapa muda berukuran kecil dan berwarna kuning yang disebut nyir gading berisi air dan bunga-bunga yang dikenal dengan kembang setaman. Ini merupakan simbolisasi bahwa tiap bagian dari manusia yang lahir itu demikian dihargai sehingga ditempatkan pada tempat yang baik (harum dengan bunga-bunga). Dari simbol bunga setaman ini, diharapkan anak tersebut kelak akan menjadi anak yang mandiri, memiliki pikiran yang jernih dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan juga memiliki keluasan cara pandang dalam hidupnya sehingga dapat meraih kemasyhuran atas dirinya.
Sesuai dengan doa dan harapan dari orang tua si bayi dan juga masyarakat sekitarnya kelak ia mendapat tempat yang baik dalam kehidupannya karena perangai yang baik pula dalam bergaul. Kelapa muda yang dipakai sebagai wadah untuk menampung rambut tersebut, dipotong bagian atasnya seperempat bagian.
Tradisi ini menyerap kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah dahulu secara simbolik saja. Di zaman itu, anak usia tujuh hari rambutnya dicukur hingga gundul. Lalu rambut tersebut ditimbang seluruhnya. Maka seberat timbangan rambut itulah berat emas dan perak yang disedekahkan kepada fakir miskin. Buah bulu yang terbuat dari emas atau perak, sekarang lebih banyak dipakai sebagai simbol emas yang akan disedekahkan. Maka secara simbolik pula, pada saat rambut si bayi digunting bersamaan dengan  buah bulu yang digantung di rambutnya.


turin tanak (turun tanah)
bayi-bayi tidak diperkenankan keluar rumah sebelum acara turin tanak sampai usia tiga bulan. Ia akan tetap berada di rumah dan tidak boleh keluar rumah. Tampaknya, cara tradisional ini juga sangat melindungi anak-anak karena tentu saja, selama tiga bulan itu ia akan selalu didampingi oleh ibunya yang tentu juga akan memberikan ASI padanya. Dalam masa itu, ia bisa mendapatkan ASI eksklusif.
sebagai simbol bahwa si bayi sudah harus bersatu dengan alamnya. Sebagai simbol ia menginjak bumi, biasanya tanah telah disiapkan dalam sebuah tampi (wadah untuk membersihkan beras khas Sumbawa). Kaki si bayi akan disentuhkan pada tanah tersebut. 
Upacara turun tanah ini juga biasanya diadakan saat anak berusia tiga bulan. Si anak dibawa turun ke tanah melewati tangga-tangga yang menjadi jalan naik menuju rumah panggung. Saat berada di tanah tersebut, sebuah jaring nelayan - jala dalam istilah masyarakat Sumbawa Barat, ramang dalam istilah Sumbawa, akan dilemparkan pada si anak yang didampingi kedua orang tuanya. Maka, yang akan kena jaring tersebut adalah si anak, ayah dan ibunya. Ini merupakan simbol si anak dan keluarganya diterima dalam lingkungan dan masyarakat sosialnya. Selain itu, makna jaring ini juga adalah untuk menjaring penyakit agar si anak terhindar dari sakit yang berbahaya. 

Upacara Cafi Sari


Upacara cafi sari dilakukan setelah bayi berumur tujuh hari. cafi sari dalam bahasa Indonesia berarti upacara menyapu lantai. Sebagai tanda terima kasih kepada sando nggana, sang ibu memberi “soji”atau sesajen yang terdiri dan kue tradisional mbojo. Seperti pangaha kahuntu,karuncupangaha bunga, pangaha sinci, ka dodo, arunggina dan kalempe. Penyerahan soji merupakan lambang harapan orang tua, agar bayinya kelak akan hidup bahagia sejahtera.
Bagi keluarga yang mampu, upacara cafi sari dilaksanakan bersamaan dengan upacara qeqa atau aqiqah. Yaitu upacara yang sesuai dengan ajaran Islam. Yang menganjurkan orang tua untuk menyembelih seekor kambing yang sehat.  Sebagai tanda syukur kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Maksud dari upacana ini, ialah menyampaikan puji syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya karena sang ibu bersama bayi sudah lahir dengan selamat. Menurut kepercayaan tradisional pada usia tujuh hari, bayi akan memasuki kehidupan dunia, dan meninggalkan kehidupan dalam kandungan.





















Upacara Dore.

Yang dimaksud dengan upacara dore ialah, upacara menyentuhkan telapak kaki bayi pada tanah. Beberapa gumpal tanah yang diambil dihalaman masjid disimpan diatas pingga bura. Tanah itulah yang akan diinjak oleh bayi.

Acara dore, bertujuan untuk mengingatkan bayi, bahwa kelak dia akan hidup di bumi yang bersih dan subur. Bayi harus mampu memanfaatkan kekayaan bumi untuk kebahagiaan keluarga dan masyarakat. Sebab itu bayi harus menjaga keselamatan bumi atau negeri.
Waari ro sai
Wari ro sai berarti suatu pekerjaan/perbuatan bapaknya si calon bayinya,dengan selalu mengucapkan “aina wari ro sai”ana nahu”artinya memohon kepada yang kuasa,agar anaknya nanti tidak lahir dengan cacat sebagai akibat dari perbuatan bapaknya.
Dari kata “wari ro sai”Bertujuan:
1.Untuk memulai suatu pekerjaan sang ayah selalu ingat pada yang maha pencipta dan keselamatan keluarganya.
2.Untuk tidak boleh sommbong,takabur dan lupa diri.
3.selalu melakukan pekerjaan dengan ulus hati,penuh keikhlasan demi keuarga dan masyaraakat.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar