Senin, 24 April 2017

DOPPLER DAN FUNDUSCOPE

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Selama masa kehamilan tentunya ibu selalu berharap yang terbaik untuk janin di dalam kandungan. Tak urung tiap kali melakukan pemeriksaan ke dokter atau bidan, ibu akan bertanya-tanya bagaimana keadaan janin. 
Pemantauan janin tentunya tidak bisa dilakukan dengan kasat mata. Maka dari itu, biasanya pemantauan dilakukan dengan mendengarkan denyut jantungnya. Bukan hanya memantau apakah denyut jantung janin keras atau lemah, tetapi juga dilihat perubahan iramanya terutama saat terjadi kontraksi rahim. Ketika janin stress, denyut jantung yang tadinya berirama dan cepat bisa jadi tidak berirama dan melemah. Hal ini perlu diketahui untuk mengetahui sejauh mana toleransi janin terhadap proses persalinan sehingga dokter atau bidan bisa memutuskan apakan perlu intervensi atau tidak. Sebagai informasi denyut jantung normal janin adalah 120-160 per menit dengan variabilitas 5-25 denyut per menit.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari doppler ?
2.      Bagaimana sejarah perkembangan doppler ?
3.      Apa saja aplikasi klinis dari doppler ?
4.      Bagaimana diagnostik doppler ?
5.      Apa saja bagian – bagian dari doppler ?
6.      Apa pengertian dan fungsi dari funduscope ?
7.      Bagaimana cara kerja dari funduscope ?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari doppler.
2.      Untuk mengetahui sejarah perkembangan doppler.
3.       Untuk mengetahui aplikasi klinis dari doppler.
4.       Untuk mengetahui diagnostik doppler.
BAB II ISI
A.    Pengertian Doppler
Fetal doppler adalah alat diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi denyut jantung bayi yang menggunakan prinsip pantulan gelombang elektromagnetik. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui kondisi kesehatan janin, dan aman digunakan dan bersifat non invasif.
Doppler juga merupakan alat yang digunakan untuk mendengarkan detak jantung janin selama masih ada didalam kandungan. Doppler biasanya terdapat di ruang kebidanan untuk membantu perawat dalam untuk mengetahui kondisi jantung janin dalam kandungan ibu. Doppler menggunakan 2 sensor yaitu :
1.      Ultrasound Menggunakan transmitter dan receiver, Keuntungannya lebih peka dan akurat, tetapi harganya lebih mahal.
2.      Mikrosound Tidak menggunakan transmitter dan receiver.Hanya menerima, tidak memancarkan,sehingga kurang peka.
B.     Sejarah Perkembangan Doppler
Prinsip doppler pertamakali diperkenalkan oleh Cristian Jhann Doppler dari Australia pada tahun 1842. Di bidang kedokteran penggunakaan tekhnik Doppler Ultrasound pertamakali dilakukan oleh Shigeo Satomura dan Yosuhara Nimura untuk mengetahui pergerakan katup jantung pada tahun 1955. Kato dan Izumi pada tahun 1966 adalah yang pertama menggunakan ociloscope pada penggunaan Doppler Ultrasound  sehingga pergerakan pembulauh darah dapat didokumentasikan.
Pada tahun 1968 H. Takemura dan Y. Ashitaka dari Jepang memperkenalkan penggunaan Doppler velocimetri di bidang kebidanan dengan menggambarkan tentang spektrum Doppler dari arteri umbilikalis. Sementara itu, di Barat penggunaann velocimetri  Doppler di bidang kebidanan baru dilakukan pada tahun1977. Pada awal penggunaan Doppler Ultrasound  difokuskan pada arteri umbilikalis, tetapi pada perkembangan selanjutnya banyak digunakan untuk pembuluh darah lainnya.
Sedangkan untuk fetal dopler sendiri  diciptakan pada tahun 1958 oleh Dr Edward H.Hon, yakni sebuah Doppler monitor  janin atau Doppler monitor denyut jantung janin dengan transduser genggam ultrasound yang digunakan untuk mendeteksi detak jantung dari janin. Edward menggunakan Efek Doppler untuk memberikan stimulasi terdengar dari detak jantung. Untuk perkembangan selanjutnya, alat ini  menampilkan denyut jantung janin per menit. Penggunaan alat ini dikenal sebagai auskultasi doppler.
C.     Aplikasi Klinis Doppler
1.      Mendeteksi dan mengukur kecepatan aliran darah dengan sel darah merah sebagai reflektor yang bergerak.
2.      Pada bidang kebidanan, fungsi alat ini dispesifikkan untuk menghitung jumlah dan menilai ritme denyut jantung bayi.
D.    Diagnostik Doppler
Pemeriksaan dengan menggunakan Doppler adalah suatu pemeriksaan dengan menggunakan efek ultrasonografi dari efek Doppler. Prinsip efek doppler ini sendiri yaitu ketika gelombang ultrasound ditransmisikan kearah sebuah reflektor stationer, gelombang yang dipantulkan memiliki frekuensi yang sama. Jadi, jika reflektor bergerak kearah transmiter, frekuensi yang dipantulakn akan lebih tinggi, sedangkan jika reflektor bergerak menjauhi maka frekuensi yang dipantulkan akan lebih rendah. Perbedaan antara frekuensi yang ditransmisikan dan yang diterima sebanding dengan kecepatan bergeraknya reflektor menjauhi atau mendekati transmiter.

Fenomena ini dinamakan efek Doppler dan perbedaan antar frekuensi tersebut dinamakan Doppler shift.Fetal Doppler hanya menggunakan teknik auskultasi tanpa teknik pencitraan seperti pada velocimetri Doppler maupun  USG. Untuk fetal Doppler,  agar bisa menangkap suara detak jantung, transduser ini memancarkan gelombang suara kearah jantung janin. Gelombang ini dipantulkan oleh jantung janin dan ditangkap kembali oleh transduser. Jadi, transduser berfungsi sebagai pengirim gelombang suara dan penerima kembali gelombang pantulnya (echo).
Pantulan gelombang inilah yang diolah oleh Doppler menjadi sinyal suara. Sinyal suara ini selanjutnya diamplifikasikan. Hasil terakhirnya berupa suara cukup keras yang keluar dari mikrofon. Dengan alat ini energi listrik diubah menjadi energi suara yang kemudian energi suara yang dipantulkan akan diubah kembali menjadi energi listrik. Pada velocimetri Doppler maupun USG, pencitraan yang diperoleh dan ditampilkan pada layar adalah gambaran yang dihasilkan gelombang pantulan ultrasound.  
Fetal  Doppler memberikan informasi tentang janin mirip dengan yang disediakan oleh stetoskop janin .  Satu keuntungan dari fetal Doppler dibanding dengan stetoskop janin (murni akustik) adalah output audio elektronik, yang memungkinkan orang selain pengguna untuk mendengar detak jantung. Fetal dopler juga mempermudah seorang bidan dalam menghitung denyut jantung janin tanpa harus berkonsentrasi penuh dalam menghitung DJJ.
E.     Bagian-Bagian Doppler
1.      Tranduser : ini diletakkan diatas obyek (perut). Dalam tranduser ini terdapat : oscilator yang mengbangkitkan frekuensi, transmitter memancarkan frekuensi yang dibangkitkan oscilator, reciver menerima frekuensi yang terpantulkan oleh obyek.
2.      Settingan volume : untuk mengatur tinggi rendahnya suara.
3.       Speaker : untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal suara.
4.       Display : sebagai penunjukan nilai denyut jantung yang terukur.

F.      Cara Kerja Blok Diagram Doppler
Doppler menggunakan frekuensi sebesar 2,25 MHz yang digunakan untuk mendeteksi detak jantung janin  usia 16 minggu, frekuensi dibangkitkan oleh oscilator kemudian dipancarkan oleh transmitter ke media pengukuran dan hasil pengukuran diterima kembali oleh reciever, lalu sinyal masuk ke pre-amp untuk dikuatkan kemudian disaring melalui filter dan dikuatkan oleh amplifier (penguat akhir).
Kemudian output dari amplifier masuk ke ADC (analog to digital converter)  dirubah menjadi data digital. Kemudian ditampilkan jumlah detakan jantung janin yang terukur  melalui display dan speaker
Cara Pengoperasian :
1.      Tekan tombol ON/OFF untuk menghidupkan Doppler
2.      Beri GEl pada tranduser
3.      Letakkan tranduser pada objek
4.      Settingan volume agar detak jantung janin terdengar melalui speaker
5.       Hitung detak jantung janin selama 1 menit
6.       Detak janin akan ditampilkan pada display

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dopler adalah alat diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi denyut jantung bayi yang menggunakan prinsip pantulan gelombang elektromagnetik.
Alat ini ditemukan oleh Cristian Jhann Doppler dari Australia pada tahun 1842. Kato dan Izumi pada tahun 1966 adalah yang pertama menggunakan ociloscope pada penggunaan Doppler Ultrasound  sehingga pergerakan pembulauh darah dapat didokumentasikan.
Tahun 1968 H. Takemura dan Y. Ashitaka dari Jepang memperkenalkan penggunaan Doppler velocimetri di bidang kebidanan dengan menggambarkan tentang spektrum Doppler dari arteri umbilikalis.
Aplikasi klinis dari Doppler adalah untuk mendeteksi dan mengukur keceptan aliran darah dan untuk menghitung jumlah dan  menilai ritme denyut jantung bayi.Prinsip efek doppler ini sendiri yaitu ketika gelombang ultrasound ditransmisikan kearah sebuah reflektor stationer, gelombang yang dipantulkan memiliki frekuensi yang sama. Jadi, jika reflektor bergerak kearah transmiter, frekuensi yang dipantulakn akan lebih tinggi, sedangkan jika reflektor bergerak menjauhi maka frekuensi yang dipantulkan akan lebih rendah.
B.     Saran
Dengan membaca makalah ini, semoga dapat menambah pengetahuan bagi penulis dan pembaca tentang perkembangan ilmu tekonolgi dalam bidang kebidanan

Daftar Pustaka
Kusuma,C.F.2013.”Doppler”.http://ekgmurah.blogspot.com.diakses tanggal 24 oktober 2013 pukul 19.10 WIB.
Luria, Ingrassia.2012”Persalinan dengan ekstrasi vacuum”. http://luriaingrassia.blogspot.com. diakses tanggal 24 Oktober 2013 pukul 18.08 WIB.
Dharmanto, wali.2012.”Pemeriksaan denyut jantung janin”. http://walidharmanto.blogspot.com. Diakses tanggal 24 Oktober 2013 pukul 18.45 WIB
http://prodia.co.id/pemeriksaan-penunjang/usg. diakses tanggal 24 Oktober 2013 pukul 19.43 WIB
Dyan,rizqi.2012.”vacuum ekstraksi”http://rizqidyan.wordpress.com. diakses tanggal 24 Oktober 2013 Pukul 19.05 WIB

Pemberian Obat Epidural



BAB I
PENDAHULUAN
Analgesia Epidural
                  Kebanyakan unit konsultan persalinan menyadiakan layanan epidural 24 jam yang diberikan oleh ahli anastesi obstetric yang terlatih. Pemasukan anastesi local kedalam ruang epidural di lumbal dapat memberikan efek analgesia (bebas dari nyeri) maupun anastesia (penurunan sensasi). Selain tidak merasakan nyeri kontraksi , ibu juga mengalami ketidak mampuan menggerakan kaki, berkemih secara normal, dan merasakan dorongan untuk mengejan pada kala II persalinan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan dan penambahan interverfensi selama persalinan. Mengingat factor-faktor tersebut, dilakukanlah modifikasi pemberian analgesic yang tidak mempengaruhi sensasi sepenuhnya yaitu dengan mengombinasiakan pemberian spinal-epidural (combined spinal epidural)/ CSE.
          
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian bius Epidural
            Bius epidural merupakan salah satu jenis pembiusan yang banyak digunakan untuk membantu meringankan nyeri pada proses persalinan. Epidural ini adalah suatu (analgesik) anestesi yang dapat mengurangi rasa sakit kontraksi Klien. Bius ini disuntikkan melalui jarum berongga ke ruang di luar membran luar sumsum tulang belakang klien. Setelah pembiusan telah dilakukan, tabung plastik tipis dimasukkan melalui jarum suntik.

B.     Blok Epidural
Anestesi lokal diinjeksikan kedalam ruang epidural. Kateter kecil dipasang sehingga top- up (dosis bolus) anestesi local dapat diberikan setelah dosis sebelumnya habis, atau infus continu dapat diberikan menggunakan driver spuit. Analgesia dan anesthesia yang diberikan biasanya bersifat total. Pemberian analgesia epidural meningkatkan resiko terjadinya persalinan lama dan persalinan dan dengan bantuan alat, terutama bila epidural diberikan sebelum pembukaan  mencapai 4 cm. gambaran denyut jantung janin kurang bervariasi: seringkali diperlukan pengawasan yang kontinu.

C.     Anastsesi Spinal
Sedikit anastesi local diinjeksikan  kedalam subaraknoid, dibawah L1, tepat ujung syaraf spinal. Analgesia dan anastesia biasanya total, seksio sesaria biasanya dilakukan dibawah anastesi spinal.
D.    Combined Spinal Epidural (CSE)
      Sedikit anestetik local dan/ atau analgesic opiate diinjeksikan ke daerah subraknoid. Kemudian sebuah kateter dimasukasn kedalam ruang epidural sehingga analgesia berikutnya dapat diberikan baik secaara bolus maupun melalui infus kontinu. Keuntungan dari teknik ini adalah bahwa analgesia lah yang berhasil dicapai, buakan anesthesia. Penggunaan opiate (sering kali fentanil) memberikan efek analgesia yang cepat, tetapi berlangsung lama, dan disertai restensi sensasi. Pemberian dosis opiate kepada ibu harus di observasi, komplikasi dari prosedur dapat berupa depresi pernapasan pada ibu dan janin.
      CSE masih harus dievaluasi sepenuhnya. Peran bidan sama dengan saat CSE sedang dipasang atau analgesia berikutnya sedang diberikan, tetapi asuhan kontinu yang diberikan berbeda dengan asuhan yang diberikan pada ibu yang mendapat epidural standar. Infus intravena dapat dihentikan setelah CSE terpasang, sensasi ibu cukup baik untuk bermobilisasi, berkemih dan mengejan, semua gambaran yang dapat menfasilitasi hasil dan pengalaman proses persalinan yang sangat berbeda. Pada pemasangan CSE banyak terjadi pruritus (collis et al, 1995) dan meningitis (O’Sullivan , 1997).

E.     Indikasi Blok Epidural
1.      Pereda nyeri atas permintaan ibu
2.      Bermanfaat saat terdapat kecenderungan persalinan dengan bantuan alat: Malposisi, Malpresentasi,Kehamilan kembar,Persalinan lama.
3.      Hipertensi
4.      Persalinan praterm

F.      Kontraindikasi
Ada beberapa kontraindikasi untuk analgesia epidural/spinal:
1.      Semua jenis malfungsi pembekuan darah
2.      Beberapa gangguan neurologis
3.      Deformitas spinal
4.      Sepsis local

G.    Cara Pembiusan
Pembiusan dilakukan oleh seorang ahli anestesi setelah klien mulai merasakan terjadinya kontraksi. Sebelumnya, klien akan disuntik melalui vena (intravena) dengan larutan khusus sebanyak 1-2 liter untuk membantu keseimbangan cairan dalam tubuh. Pemberian larutan ini akan terus berlangsung hingga proses persalinan selesai. Selanjutnya, klien disuruh untuk berbaring miring sambil menekuk/melengkungkan tubuh sedemikian rupa, sehingga ruas-ruas tulang belakang klien terbuka lebar. Caranya, pertemukan dagu dengan dada, serta dengkul klien dengan perut. Kemuklienn, obat bius akan dimasukkan menggunakan jarum suntik melalui suatu celah pada ruas tulang belakang untuk mencapai bagian yang disebut epidural. Bagian ini ada pada jalur sistem saraf pusat tulang belakang. Epidural terasa seperti es cair yang menimbulkan mati rasa pada perut klien, bawah dan kaki, dan mematikan saraf-saraf yang membawa sinyal rasa sakit dari rahim klien.

H.    Prosedur Pemasangan Blok Epidural Tradisional
Teknik ini dimodifikasi bila diberikasn sebagai CSE atau bial pemberiannya menggunakan infus kontinu.
1.      Dapat persetujuan tindakan dari ibu
2.      Anjuran ibu untuk berkemih
3.      Panggil dokter anestesi
4.      Siapkan alat:
a.       Perlengkapan alat untuk intravena
b.      Monitor CTG
c.       Troli balutan
d.      Skort dan sarung tangan steril
e.       Paket balutan steril, dengan linea berlubang (duk) dan kasa
f.       Losion antiseptic, biasanya klorheksidin dalam alcohol isopropyl 70%
g.      Paket epidural, bias any aberisi jarum touby, spuit, slang (kateter)dan filter
h.      Obat anastesi local untuk kulit dan epidural, seperti lignokain dan bupivaksin
i.        Spuit dan jarum steril
j.        Plester
k.      Balutan plastic untuk kulit
5.      Pasang infus intravena, berikan cairan dosis pembebananuntuk mencegah hipotensi (sesuai permintaan dokter anestesi)
6.      Posisikan ibu, untuk melengkungkan spina sehingga akses diantara vertebra dapat diperoleh:
a.       Miring kekiri dengan lutut ditekuk dan dagu ke dada , tetapi punggung ibu sangat dekat dengan tepi tempat tidur atau
b.      Duduk ditepi tempat tidur dengan kedua kaki ditopang kursi, lengan bersandar diatas meja tempat tidur
7.      Bantu dokter anestesi memakai sarung tangan dan skort dan membuat daerah aseptic yang benar: tuangkan lotion, buka jarum dan spuit, pegang ampulanastetik local untuk diisap isinya, dll.
8.      Anjurkan ibu untuk tetap diam pada posisinya pada saat epidural dipasang oleh dokter anestesi. Selama aktivitas berlangsung dibagian punggung ibu, berikut ini adalah dukungan dan bantuan yang diperlukan:
a.       Punggung ibu dibersihkan , linen berlubang dibentangkan ditempatnya dan anastetik local diinsersikan kedalam kulit
b.      Jarum touby diinsersikan pada saat ibu bebas kontraksi dan sangat tenang
c.       Digunakan spuit epidural (menginjeksikan udara untuk mengkaji adanya tahanan) untuk memastikan bahwa jarum touby berada ditempat yang benar
d.      Kateter dimasukan ketempat tersebut dan jarum touby dicabut.
9.      Semprotkan kulit plastic disekitar daerah tusukan dan fiksasi kateter dengan plester, bila anastetik telah siap, fiksasi filter ditempat yang mudah dijsngksu, sering kali dibahu ibu
10.  Berikan sedikit dosis uji: dosis pertama diberiksn jika dokter anestesi merasa yakin bahwa katetersudah diinsersikan dengan benar
11.  Bantu ibu keposisi yang sesuai dengan permintaan dokter anestesi selama 20 menit pertama setelah pemberian (sering kali semi-rekumber)
12.  Kaji dan catat tekanan darah dan nadi setiap 5 menit selama 20 menit  berikutnya
13.  Obsetrvasi kondisi ibu termasuk tingkat nyeri, kehangatan, keamanan, infus intravena, warna dan tanda-tanda mual
14.  Panggil dokter anestesi bila ada tanda dan gejala yang membutuhkan perhatian (hipotensi dapat diatasi dengan peningkatan kecepatan tetesan infus, tetapi dokter anestesi tetap harus dipanggil)
15.  Bereskan alat dengan benar
16.  Pantau kondisi janin, catat epidural pada gambaran CTG
17.  Bila dalam 20 menit semua hasil observasi kondisi ibu dalam keadaan normal dan tingkat analgesia telah tercapai, posisikan kembali ibu sesuai keinginannya
18.  Lanjutkan perawatan persalinan, termasuk perawatan kandung kemih dan tungkai kebas, dan buat catatan yang benar
19.  Setelah 2-8 jam lakukan observasi adanya tanda-tanda kekambuhan, berikan top-up sebelum ibu merasa tidak nyaman

I.       Top –up Epidural
Top-up Epidural diberikan jika pemberian anestesi tidak kontinu baik dalam bentuk epidural standar maupun CSE. Bidan yang telah dilatih khusus dan berada dibawah pengawasan , dapat memberikan top-up sesuai kebijakan setempat. Dokter anestesi menetapkan dosis anastetik local (konsentrasi dan jumlah), frekuensi, dan posisi ibu. Memberikan dosis dua kali setengah dengan jarak 5 menit dapat dilakukan untuk berjaga-jaga seandainya kateter bergerak ke cairan cerebrospinal. Meskipun demikian instruksi pemberiaan yang kontinu dan lambat juga harus ditulis dalam bentuk resep tertulis (May,1994).

J.       Prosedur Top-up Epidural
1.      Kaji adanya kebutuhan pemberian top-up, periksa infus intravena dan siapkan alat:
a.       Obat sesuai resep
b.      Jarum dan spuit steril
c.       Kapas alcohol untuk penghapus kuman
2.      Posisikan ibu sesuai instruksi dokter anestetik, biasanya posisi miring pala kala I persalinan , dan duduk pada kala II
3.      Cuci tangan dan periksa keembali obat anastetik local bersama bidan lainnya dan ambil obat dengan dosis benar
4.      Bila ibu bebas dari kontraksi, buku penutup filter, desinfeksi port tersebut dengan kapas alcohol dan injeksikan obat anastetik local dengan kecepatan 5 ml/30 detik
5.      Observasi ibu untuk adanya reaksi merugikan seperti tinnitus, mengantuk dan bicara dengan tidak jelas
6.      Pasang kembali tutup filter
7.      Nadi dan tekanan diukur seperti pada pemberian awal : setiap 5 menit selama sedikitnya 20 menit
8.      Bila perlu posisikan ibu kembali
9.      Bereskan alat dengan benar
10.  Dokumentasi pemberian dan pengaaruhnya serta lakukan tindakan yang sesuai
11.  Lanjutkan observasi untuk dapat dan efek sampingnya: panggil dokter anestesi bila perlu

K.    Cara Kerja Bius Epidural Pada Tubuh
            Ketika pemberian bius, Tentu saja klien akan merasakan sakit yang agak menggigit saat jarum suntik menembus celah ruas tulang belakang. Bahkan ada orang yang mengalami sedikit pembengkakan pada bekas suntikan, sampai beberapa hari setelah proses persalinan selesai. Bagi klien yang operasi Caesar, seringkali timbul rasa seperti ada yang mengganjal di tulang belakang sampai beberapa minggu setelah persalinan. Rasa sakit ini akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Klien harus tetap berbaring di tempat tidur sampai saat persalinan tiba. Tapi, selama menunggu, klien diperbolehkan untuk berbaring menyamping dengan kepala lebih tinggi sekitar 30 derajat dari tubuh.
            Umumnya, 3-5 menit setelah obat disuntikkan, sistem saraf dari bagian rahim hingga jalan lahir akan mati rasa (kebas). Setelah lewat 10 menit, biasanya klien sudah akan benar-benar mati rasa pada daerah tersebut, atau hingga seluruh bagian bawah tubuh. Hal ini tidak mempengaruhi kemampuan klien dalam mengejan, klien tetap dapat mengejan dengan dibimbing dokter dan perawat yang membantu persalinan. Obat bius itu tidak menghambat proses persalinan. Hanya saja, klien tidak akan merasakan nyeri luar biasa saat kontraksi semakin keras, di menit-menit terakhir sebelum si kecil lahir. Namun, bagi klien yang kehilaRngan kemampuan untuk mengejan, dokter akan membantu menggunakan forcep atau alat vakum. Sekalipun tindakan tersebut sebenarnya menambah besarnya risiko bagi bayi, tapi bila didukung oleh keterampilan dokter, maka klien tak perlu merasakan kekhawatiran yang berlebihan.
L.     Prosedur Pelepasan Kanula Epidural
Kanula dicabut setelah epidural tidak lagi diperlukan, biasanya setelah persalinan selesai
1.      Dapatkan persetujuan tindakan dari ibu dan perhatikan privasinya
2.      Pasang sarung tangan steril, balutan tahan air dan kulit plastic pada ibu
3.      Cuci tangan, pakai sarung tangan seteril
4.      Buka plester dan minta ibu untuk membungkukan punggungnya (sama dengan posisi pada saat insersi epidural): tarik keluar kateter tersebut dengan hati-hati, tetapi cepat
5.      Pasang kulit plastic dan balutan tahan air steril
6.      Periksa kateter untuk kelengkapannya dengan mengkaji gradasi dan keadaan sekeliling ujung kateter: untuk menyakinkan kondisinya, periksa ulang oleh orang kedua
7.      Dokumentasikan pencabutan kanula dan lakukan tindakan yang sesuai

M.   Efek Samping Epidural
1.       HIpotensi (lebih menurun dengan CSE), mual, pingsan
2.      Dural tap, bila jarum tidsak sengaja menusuk dura meter, mengskibatkan menurunnya tekanan intracranial yang berpotensi menimbulkan sakit kepala besar selama beberapa hari berikutnya.
3.      Anastesi spinal total, terlau banyak memberikan injeksi anestesi local ke dalam ruang syubaraknoid dapat menyebabkan henti napas
4.      Blok parsial(nyeri membandel) yaitu saat kondiai masih tetap dirasakan di salah satu area abdomen
5.      Toksisitas obat :
a.       Gelisah
b.      Pusing
c.       Tinnitus
d.      Rasa logam
e.       Mengantuk
f.       Perubahan suhu, ibu biasanya mengalami efek vasodilatasi dari bupivakin yang menyebabkan kaki terasa hangat, suhu meningkattetapi tubuh menggigil
g.      Retensi urin

N.    Peran Dan Tanggung Jawab Bidan
Secara ringkas peran dan tanggung jawab bidan adalah
1.      Memberi penyuluhan dan melakukan persiapan pada ibu , termasuk mendapatkan persetujuan tindakan dari ibu
2.      Mengkaji perkembangan yang dialami ibu, misalnya perkembangan persalinan
3.      Menetapkan beban kerja bidan agar ibu dapat dirawat secara ideal satu bidan untuk satu pasien setelah insersi
4.      Memposisikan ibu dengan benar dan memberi dukungan pada ibu selama pemasangan epidural
5.      Membantu dokter anestesi selama persiapan dan pemasangan
6.      Memberikan asuhan yang kontinu dan mengobservasi ibu dan janin
7.      Mengetahui berbagai penyimpangan dari normal, berespons dan menghubungi dokter anastesi
8.      Melatih dan kometen untuk melakukan tops-up atau perawatan kontinu
9.      Melepaskan kateter epidural dengan benar
10.  Melakukan pencatatan dengan benar.


















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Epidural dapat menjadi jenis analgesia yang paling efektif karena dapat menghilangkan rasa nyeri saat persalinan
2.      Epidural ini tidak boleh digunakan sebagai tindakan rutin dalam proses persalinan karena dapat menimbulkan berbagai efek samping yang negative
3.      Bidan bekerja sama dengan dokter anestesi obstetrik yang terampil
4.      Bidan berperan dan bertanggung jawab saat pemasangan epidural, atas asuhan yang kontinu dan atas penatalaksanaan top-ups.

Referensi
    Johnson, ruth dan wendy taylor.2005. Praktek Kebidanan. EGC: Jakarta
May A. 1994. Epidurals for childbirth. Oxford University Press: Oxford